Saturday, April 8, 2017

cara membuat footnote/catatan kaki di Mc. Word


Cara membuat footnote

Hi brothers and sisters... semoga semua selalu diberikan kekuatan dalam menjalankan aktifitas sehari-sehari.. amiinn..
Saya mau berbagi lagi nih dengan bro n sist sekalian.. pernah nggak bro n sist baca buku terus menumakan catatan kecil di halaman bawah buku itu, kalau pernah dan tidak tau itu namanya apa dalam istilah penulisan di microsoft word, itu namanya Footnote. Nah kali ini saya akan berbagi pada bro n sist sekalian tentang bagaimana cara membuat footnote. Saya nulis ini sih karena beberapa hari yang lalu saya di telfon kawan mau ketemu, ada perlu penting katanya. Setelah mengatur waktu bertemu, ternyata Cuma mau tanya bagaimana cara buat footnote untuk penulisan skripsi nya, hehehe.. to the poin aja lah ya, biar gak ngelantur nanti ceritanya..
Baiklah, bro n sist sekalian silahkan siapkan lembar kerja atau file nya yang mau dikasi footnote, dan tentunya ikuti langkah-langkahnya berikut.
1.    Letakkan kursor di akhir kata dima bro n sist yang ingin beri catatan kaki atau footnote.
2.    Klik tab references dan pada bagian footnote pilih “insert footnote”

3.    Lakukan hal yang sama pada bagian selanjutnya.
4.    Bro n sist juga bisa mengatur format footnote nya sesuai dengan kebutuhan dengan klik anak panah kecil pada bagian footnote,

maka akan muncul kotak dialog seperti di bawah.

Nah, pada kotak ini silahkan bro n sist atur sesuai kebutuhan, jika sudah selesai klik Apply kemudian klik insert.

Selesai.. mudah kannn hehehe.. semoga bisa membantu bro n sist sekalian.
Jika, brothers n sisters ingin lebih jelas silahkan lihat video nya di sini.

Subhanallah-Doa seorang Ibu - Wallahu A'lam



Do’a Seorang Ibu

Alkisah, Lana, seorang ibu setengah baya dengan penampilan kumuh dan baju yang kumal, masuk ke dalam sebuah minimarket yang terletak di dekat rumah kontrakannya di pinggiran kota Kairo, Mesir. Dengan sangat terbata-bata dan bahasa yang sopan, ia memohon agar diperbolehkan berhutang kepada pemilik toko, tuan Syahril.
Ibu itu memberitahukan bahwa suaminya sedang sakit dan sudah seminggu tidak bekerja sebagai buruh bangunan yang hanya mengandalkan upah harian, ia memiliki lima anak yang masih kecil-kecil, yang sangat membutuhkan makan dan susu. Syahril, si pemilik minimarket mengusirnya keluar. Sambil mengiba, ia terus menggambarkan situasi keluarganya.
“Tolonglah, tuan. Saya berjanji akan segera membayar hutang setelah saya punya uang.”
Syahril tetap tidak mau mengabulkan permohonan tersebut. Iapun berucap, “anda tidak mempunyai uang, jadi anda tidak mempunyai jaminan apapun.”
Di dekat meja kasir, ada seorang pelanggan lainnya, yang sejak awal mendengarkan percakapan di antara keduanya. Ia mendekati keduanya, lalu berkata, “saya akan membayar semua yang diperlukan oleh ibu ini.”
Karena malu, si pemilik toko berujar, “tidak perlu, Pak. Saya akan memberikannya secara gratis. baiklah, apakah ibu membawa daftar belanja?”
“Ya, pak. Ini daftar belanjaan saya,” jawabnya seraya menunjukkan sesobek kertas kumal.
“Letakkanlah daftar belanja anda di dalam timbangan, lalu saya akan memberikan belanjaan anda secara gratis sesuai dengan berat timbangan tersebut,” ungkap si pemilik toko.
Dengan sangat ragu-ragu dan setengah putus asa, Lana menundukkan kepala sebentar, lalu menuliskan sesuatu pada kertas kumal tersebut. Kemudian, ia meletakkan daftar belanjaannya di atas timbangan.
Mata si pemilik toko terbelalak melihat jarum timbangan bergerak cepat ke bawah. Ia menatap pelanggan yang semula menawarkan belanjaan kepada sang ibu sembari berucap, “saya tidak mempercayai hal ini.”
Si pelanggan baik hati itu hanya tersenyum. Lalu, sang ibu kumal tadi mengambil barang-barang yang diperlukan yang disaksikan oleh pelanggan baik hati tersebut. Si pemilik toko menaruh belanjaan ini pada sisi timbangan yang lain. Jarum timbangan tidak kunjung berimbang, sehingga ibu terus mengambil barang-barang keperluannya dan si pemilik toko terus menumpuknya pada timbangan sampai tidak muat lagi. Si pemilik toko merasa sangat jengkel dan tidak dapat berbuat apa-apa.
Karena tidak tahan, si pemilik toko diam-diam mengambil sobekan kertas daftar belanja si ibu kumal. Dan, ia pun terbelalak. Sebab, di atas kertas kumal itu tertulis sebuah doa pendek, “Ya Allah, engkau maha tau apa yang hamba perlukan. Hamba menyerahkan segalanya kedalam genggaman tangan-Mu.”
Si pemilik toko terdiam. Sang ibu, Lana, berterima kasi kepadanya, lalu meninggakan toko dengan belanja gratisnya. Si pelanggan baik hati bahkan memberikan selembar uang $100 kepadanya. Segera setelah itu, si pemilik toko mengecek timbangan yang digunakan olehnya ternyata tidak rusak. Sungguh hanya Allah yang tau bobot sebuah doa dan ini lah bobot doa seorang ibu.
Source: Book of Inspirational Story By Lidia Yurita

Tuesday, April 4, 2017

Kemuliaan cinta seorang ibu




Cinta Seorang Ibu Bersifat “Wlaupun”, bukan “Karena”


ALKSIAH- disebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, dan hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya yang mempunyai tabiat buruk, suka mencuri, berjudi, mengadu ayam, dan lain sebagainya. Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Namun, ia selalu berdoa memohon kepada tuhan, “Tuhan, tolong sadarkan anakku yang ku sayangai supaya ia tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikannya bertaubat sebelum aku mati.”
Namun, semkain lama, si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya. Ia sangat sering masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya. Suatu hari, ia mencuri di salah satu rumah penduduk desa, tetapi betapa malang nasibnya karena ia tertangkap. Kemudian, ia dibawa ke hadapan raja untuk di adili dan di jatuhi hukuman pancung. Pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa. Hukuman akan dilakukan keesokan hari di depan rakyat, dan tepat saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi.
Sampailah berita hukuman itu ke telinga sang ibu. Ia pun menangis meratapi nasib anak yang dikasihinya dan berdoa kepada tuhan, “Tuhan, ampunilah anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya.”
Dengan tertatih-tatih, sang ibu mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan, tetapi sayang keputusan sudah bulat, dan anaknya harus menjalani hukuman. dengan hati hancur, sang ibu kembali ke rumah. Tak hentinya ia berdoa supaya anaknya di ampuni, dan akhirnya ia tertidur karena kelelahan dan dalam tidurnya ia bermimpi.
Keesokan harinya, di tempat yang sudah ditentukan, rakyat datang berbodnong-bondong untuk menyaksikan hukuman tersebut. Sang algojo pun sudah bersiap dengan pacingnya dan si anak sudah pasrah dengan nasibnya. Terbayang di matanya wajah sang ibu yang sudah tua, tanpa terasa iapun menangis menyesali perbuatannya.
Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan, lonceng belum juga berdentang, padahal sudah lewat lima menit. Suasanapun mulai tidak terkendali. Orang yang bertugas membunyikan lonceng pun mendatangi tempat pemancungan itu. Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi ia telah menarik tali lonceng tetapi suara dentangnya tidak terdengar.
Saat semua orang merasa kebingungan, tiba-tba dari tali lonceng itu mengalir darah. Dengan jantung berdebar-debar, seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang yang naik ke atas menyelidiki sumber darah.
Tahukah anda, apa yang terjadi? Ternyata, di dalam lonceng ditemui tubuh sang ibu tua dengan kepala hancur berlumur darah. Ia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi. Dan sebagai gantinya, kepalanyalah yang terbentur di dinding lonceng.
Semua orang yang menyaksikan kejadian tersebut tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara itu, si anak meraung-raung memeluk tubuh sang ibu yang sudah diturunkan, karena menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibuya. Ternyata pada malam sebelumnya, sang ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng. Ia memeluk besi di dalam loncneng untuk menghindari hukum pancung anaknya.
Demikianlah kisah seorang ibu untuk anaknya. Betapapun jahat si anak, sang ibu tetap mengaasihi sepenuh jiwa dan raga. Marilah kita mengasihi orang tua kita masing-masing. Mereka adalah sumber kasih tuhan bagi kita di dunia ini.



Source: Book of Inspirational Story By Lidia Yurita